Noor Saidah

Noor Saidah, S.Pd.SD., lahir di Kudus, 6 September 1966, 1982 menamatkan pendidikan di SMP N1 Gebog,Kudus, dan lulus SPGN Kudus tahun 1985, tanggal 1 Juni...

Selengkapnya
Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku

Masih teringat kala aku baru pertama diterima di sebuah perguruan tinggi Akademi Keperawatan (AKPER). Ketika itu aku seperti berjalan dengan mata yang tertutup, dengan berharap-harap cemas. Bagaimana kelanjutan pendidikanku ini, bentuk perkuliahannya seperti apa? biayanya dari mana dan masih seabrek pertanyaan pertanyaan lainnya. Yaach, ku pasrahkan saja semua itu kepada yang Maha Kuasa. Awal semester pertama, ditandai dengan sebuah insiden kecil, ketika itu aku manjat pohon rambutan, karena kurang hati-hati aku terjatuh, kakiku cidera. Mamah dan semua kakakku pun datang menjengukku di asrama. Yang paling ku ingat ketika itu adalah pertanyaan menggeltik dari kakakku.

“Kok bisa sih dik kamu pilih kuliah di sini?” tanya kakak sulung aku. Aku tahu dan paham atas pertanyaan kakakku itu, karena keempat kakakku di pendidikan semua. Hanya akulah yang masuk di dunia kesehatan. Kebetulan papah dulu adalah seorang guru, semua kakakku juga guru jadi aku sendiri yang berbeda dunia, jika kakakku di dunia pendidikan aku sendiri di dunia kesehatan. Tak jadi soal, resiko sebuah pilihan.

“Ya mbak, kalau ada perguruan tinggi lain yang lebih murah, pasti akan menjadi pilihanku.” Kakakku pun terdiam mendengar jawabanku itu. Mengingat kondisi keluarga, aku memang sengaja mencari pendidikan yang membutuhkan biaya yang seminim mungkin. Dan alhamdulillah aku diterima di AKPER Negeri. Biaya pendidikan masih mendapat subsidi dari pemerintah sehingga biaya yang dibebanan pada mahasiswa agak teringankan. Aku begitu merasa kasihan melihat Mamah banting tulang sendiri, harus menanggung biaya kuliah aku dan juga kakakku yang ke empat, sedang adikku juga masih di SMA. Papah sudah berpulang ke Rahmatullah akibat kecelakaan yang menimpanya beberapa tahun yang lalu.

Memang dari dua orang kakakku sudah bekerja, dan merekapun ikut membantu kami tapi akupun harus tahu diri karena mereka itu juga punya tanggungan keluarga masing-masing. Akhirnya pada suatu waktu, datanglah sebuah keberuntungan yang sudah lama aku impikan, aku diangkat jadi PNS dan bekerja di sebuah rumah sakit di kotaku. Aku sangat bersyukur sekali, impian ke dua orangtuaku terwujut. Pejuangan dan kerja keras Mamah telah membuahkan hasil yang sangat membanggakan, khususnya bagi keluargaku.

Waktupun terus berjalan, umurku juga terus bertambah, semua kakakku sudah berkeluarga bahkan adikku juga sudah menikah. Ada semacam kekhawatiran yang terpancar di wajah Mamah, cemas karena aku tidak kunjung menikah, aku juga paham akan hal itu. Tapi kembali lagi… pernikahan itu bukanlah sebuah permainan, pernikahan itu sesuatu yang sakral. Bagiku wajib satu kali dalam hidup, karena istri bukanlah pakaian atau baju yang bisa kita buang jika kita bosan, jadi harus dipertimbangkan matang-matang, tidak boleh asal-asalan. Berulang kali kakak-kakakku memperkenalkan gadis kepadaku, tapi berulang kali pula tidak ada yang dapat membuat hatiku sreg, tidak juga membuatku tertarik, apalagi sampai membuatku jatuh hati. Aku sungguh tidak tahu, kenapa bisa begitu. Hatiku seolah dingin bagaikan gunung es.

Hal ini berlangsung cukup lama, kulihat Mamahku juga semakin tua dan tentu saja semakin cemas memikirkan aku. Padahal posisiku saat ini sudah cukup mapan, kujalani saja kehidupanku ini dengan datar dan seperti tanpa warna. Hari hari kulalui dengan kerja dan kerja hingga pada suatu saat ketika aku secara tidak sengaja kenal dengan seorang gadis. Usianya dengan usiaku terpaut jauh, ia juga seorang perawat artinya ia berada di dunia yang sama dengan aku, profesi yang sama. Aku tidak tahu kenapa seolah ada sesuatu yang berbeda.., seolah ada yang membisikkan sesuatu di telingaku, bahwa ia adalah jodohku. Aku juga tidak habis pikir, kenapa setelah perkenalan itu hatiku langsung mantap, ia bagaian sebuah magnet saja. Aku seperti digiring untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya… Alhamdulillah.. mungkin ini adalah jawaban dari doa-doamu Mamah.!! Betapa bahagianya Mamah setelah aku beritahukan hal ini. Kulihat Mamah kembali muda dan cantik lagi !

Penulis adalah peserta Sagusabu Kudus

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Inspiratif. Cerpen yang penuh semangat. Bunda. Jgn lupa berkunjung ke tulisan saya.

11 Feb
Balas

Alhamdulillah pak, trimakasih ...in sya Allah akan singgah juga di tulisan panjenengan

12 Feb

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali