Noor Saidah

Noor Saidah, S.Pd.SD., lahir di Kudus, 6 September 1966, 1982 menamatkan pendidikan di SMP N1 Gebog,Kudus, dan lulus SPGN Kudus tahun 1985, tanggal 1 Juni...

Selengkapnya
INILAH BUAH DARI DOSAKU (2)

INILAH BUAH DARI DOSAKU (2)

Parahnya lagi, aku tidak pernah menyaksikan uang dari hasil penjualan sawah itu sepeserpun. Aku hanya bisa diam. Diam membiarkan kezaliman dari suamiku sendiri.Tak ada keberanian untuk bertanya. Ya Allah , mungkin inilah dosa terbesarku. Demi menutupi kebohonganku akupun merancang serangkaian kebohongan yang lain. Aku mengarang berbagai alasan supaya mendapatkan bantuan keuangan dari ibuku.

Suatu hari akupun dikejutkan oleh sebuah berita. Aku dan Mas Firman dipanggil oleh bapak. Seluruh badanku gemetaran. Dadaku dipenuhi tanda tanya. Ternyata.... Saudara kembarku datang mengadu kepada bapak. Owh, ya kami adalah anak kembar. Aku bernama Sriana Dewi dan kembaranku Sriani Dewi. Kemudian aku biasa dipanggil Ana dan kembaranku dipanggil Ani.

Atas bujukan dari Mas Firman juga, sembilan bulan yang lalu suami Ani ambil kredit sepeda motor. Karena saking percayanya, kredit itu atas nama Mas Firman. Jadi proses pembayarannya, Suami Ani menitipkan uang ke Mas Firman. Kemudian Mas Firman yang membayarkannya ke Toko. Dari Suami Ani uang angsuran memang lancar tak ada masalah, tapi tenyata uang itu macet mulai pada bulan ke tiga sampai ke sembilan, alias berhenti di Mas Firman. Entah digunakan apa saja uang itu. Aku tak pernah tahu. Bapak marah besar kepada kami. Layaknya kami disidang di meja hijau.

Mungkin bagi orang yang normal, hal ini sudah merupakan tamparan keras yang cukup membuat malu. Tapi tidak untuk Mas Firman. Wajah dan sikapnya seolah tak berdosa. Santai.... no problem ! Ya Allah... lagi lagi aku yang kena getahnya..

Hari demi hari berlalu. Tak ada perubahan. Tidak lebih baik dari kemarin. Sampai akhirnya anak ke tiga kami beranjak besar. Seorang anak perempuan yang manis. Kami berempat hidup seadanya. Tanpa cinta dari suami, tanpa cinta dari seorang ayah. Rupanya drama memilukan ini belum saatnya berhenti.

Kembali aku dikejutkan oleh sebuah berita, Mas Firman dengan diam-diam telah membabat habis perkebunan sengon laut milik adikku. Urusan lagi ! Duuuh ! Ya Allah.. aku hanya bisa berdoa, memohon kepada Allah supaya Mas Firman mendapatkan hidayah dan kembali ke jalan yang diridloi Allah SWT. Sehingga bisa segera menyadari atas semua kesalahannya. Dan kami diberikan ketabahan dalam menghadapi cobaan ini.

Sampai akhirnya ketiga anak kami menikah dan kamipun punya cucu. Kelihatannya ujian belum juga selesai. Hingga pada suatu hari Mas Firman pergi ke ladang. Seperti biasanya untuk menggali / menambang batu kemudian kalau sudah terkumpul dijual. Namun rupanya Mas Firman sudah saatnya untuk menemui takdirnya. Saat menambang batu tanahnya longsor dan dengan secepat kilat ia tertimbun tanah.

Beruntung ada yang mengenali sebagian baju yang masih tampak. Maka bantuanpun segera datang. Namun ajal tak bisa mundur barang sedetik pun. setelah jenazahnya berhasil dievakuasi dan dibawa pulang, maka dilajutkan untuk diotopsi oleh petugas Medis setempat. Hasilnya menyatakan bahwa Mas Firman meninggal karena tertimbun tanah. Innalillahi wa innailaihi rajiun... (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali). (Al-Baqarah 2:156)

Istanaku, 17 Agustus 2019

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Cerita yang bikin pilu hati ini.masih bersambung yah Bund. Sukses selalu dan barakallah fiik

17 Aug
Balas

Aaamiiin. Makasih bunda. Kayaknya kalau diterusin kok tammbah ngeri.. he..he.. he,,

17 Aug

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali